Sabtu, 11 Juli 2026

Hanya Untuk Bersembunyi

Pada hari ini, detik ini, aku bangun dan memilih untuk kembali telanjang. Aku menanggalkan pakaianku, topiku, kasutku, selendangku, cincinku, kecamataku, topengku. Segala hal yang telah lama kupakai dengan hati-hati dan seksama, hanya untuk bersembunyi. Aku melihat tubuhku yang telanjang, dengan utuh, dengan rindu, dengan ngilu, dengan curiga, dengan waspada, dengan takut.

Kulitku memang bersih, tapi tidak.

Sudah sejak lama aku menggulung dan melipat rapi setiap ucapan ibu yang perih. Aku menyusun kata-kata ibu di sekujur lapisan kulit ariku, tak terlalu dalam, tak terlalu kentara juga. Hanya cukup jelas bagi otakku untuk menghafalnya. Dan ternyata itu tidak apa-apa.

Rambutku memang bersih, tapi tidak.

Aku merekam belaian tangan bapakku yang mengusap kepalaku saat aku sedang marah. Aku mencatat jari guruku yang menjambak rambutku ketika aku lupa mengerjakan PR matematika. Aku memetakan keringat yang menuruni kulit kepalaku waktu aku lupa membawa topi saat upacara bendera kemerdekaan Indonesia.


Mataku memang rabun, tapi tidak.

Aku telah melihat beragam pertengkaran dan pengkhianatan yang terjadi di rumahku. Aku menyimpan adegan itu di kedua sudut mataku. Sudut mata kiriku dan sudut mata kananku kadang tak saling setuju. Itulah mengapa kedua mataku tak menangis bersama.

Mulutku memang normal, tapi tidak.

Aku telah berdoa dan mencaci dan memaafkan dan menghina dan mencium dan meludah dengan mulut yang sama. Kebenaran dan kejujuran yang sudah sangat putus asa ingin menyeruak, telah sering kubungkam dengan tembakau dan asap, hanya agar mataku tak perlu lagi menciptakan air mata.

Pada hari ini, detik ini, aku bangun dan memilih untuk kembali telanjang. Aku menanggalkan pakaianku. Aku menanggalkan aku. Aku melihat tubuhku yang telanjang, dengan utuh, dengan riuh, dengan remuk, dengan nyaman, dengan tenang.


Kucing Manis, 28-06-2026 

Caranya Selesai

Waktu kecil aku sudah belajar caranya selesai. 

Waktu itu ibu memutuskan bahwa puting susunya tak lagi boleh kuisap. Aku tidak lagi bisa menyesap air susu ibuku yang manis. Aku tidak lagi boleh tidur lelap dekat payidara ibuku yang tenteram. Aku harus menemukan kedamaian dari tempat yang lain.

Lantas pada suatu pagi, ayahku tak lagi memandikan aku. Aku tidak lagi dibalut handuk warna-warni dalam dekapan ayah. Sekarang aku mandi sendiri. Memakai celana dalamku sendiri. Memakai kutangku sendiri.

Kemudian di hari lain, kakekku tak lagi mengantarku ke sekolah. Aku tidak lagi mengadu pada kakek sewaktu temanku menjambak rambutku. Aku tidak lagi mencari kakek sewaktu bu guru memarahi aku. Aku menyelesaikan PRku sendiri. Aku jajan sendiri.

Dan aku juga tidak lagi disuapi nenek. Nenek berhenti mengulurkan sendok berisi sop ceker ayam ke mulutku. Nenek tidak lagi menggorengkan aku telur dadar sebelum sekolah. Aku makan sendiri dan mencuci piringku sendiri. Lalu aku mulai merasa fasih. Memilih semua sendiri. Menyelesaikan ini-itu juga sendiri. Aku fasih, benar-benar fasih. 


Dan ruang-ruang di dalam hatiku mulai tumbuh lengkap dengan tembok, keramik, pintu, dan daun jendela. Ruang di hatiku memang tidak mirip istana, namun ruang itu tetap hangat serta lembut. Kemudian orang-orang mulai mengetuk dan singgah di dalamnya. Beberapa membawa kesedihan, beberapa membawa tanda tanya, beberapa menitipkan kosong.

Dan tiba-tiba aku merasa tak fasih dengan kosong. Bagaimana caranya menyelesaikan kosong? Apakah kalau diisi maka kosong itu akan selesai? 

Maka kosong-kosong itu kutaruh dengan rapi dan seksama di tembokku. Kubingkai satu-satu. Kurawat dengan kasih sayang. Tapi kosong tetap kosong. Lama-lama ruangku penuh sesak dengan kosong.

Aku mengikat kosong itu dengan seutas tali, ingin kujadikan layang-layang. Tapi aku tak punya angin untuk menerbangkan kosong. Aku menanam kosong itu di tanah. Namun aku tak punya air untuk menyirami kosong. Andai saja puting ibu masih ada, aku pasti sudah mencipratkan air susu ibu pada kosong.

Sejak kecil aku sudah belajar caranya selesai.

Seperti kata bu guru, selesai tidak selesai harus dikumpulkan. Maka kulipat-lipat saja kosong itu. Menjadi sangat kecil. Menjadi sangat tipis. Menjadi sangat mungil. Lalu kutaruh di relung bola mataku. Menjadi hiasan kosong. Membuat orang bingung, mengapa mataku kosong.

Lalu kuusap-usap mataku yang kosong. Butiran-butiran kosong membuat mataku pedih. Air mataku lepas dan mengalir. Kosong-kosong itu pun keluar. Tak lagi tinggal di dalam aku. Tak lagi kusimpan di dalam aku.Ternyata aku hanya perlu menangis. Sesuatu yang telah kupelajari sejak lahir.

Sejak kecil, aku sudah belajar caranya selesai.


Kucing Manis, 04-05-2026

Roh Kalender

Sebenarnya ini adalah rahasia. Tak banyak yang tahu. Tak sering kuceritakan. Tapi kali ini aku sedang ingin mengatakannya. Aku bisa berbicara dengan roh.

Setiap benda yang ada di dekatku terdapat satu roh. Kadang mereka perempuan, kadang juga lelaki. Ada roh yang tua, ada pula yang muda. Banyak yang pendiam, tapi jika beruntung aku bisa bertemu dengan roh yang cerewet.

Jam dindingku misalnya, menjadi tempat bernaung sesosok roh yang pendiam. Ia berbicara melalui angka-angka dan aku yang tak paham matematika ini selalu kebingungan menangkap maknanya. Maka kubiarkan saja roh itu meracau dalam angka, tak pernah kusanggah.

Ada juga roh cermin yang gemar meniru diriku. Ia berbicara melalui mimik wajah dan ia cerewet setengah mati. Kesukaannya adalah menghitung keriput di sudut mataku dan menertawakan aku setiap kali aku menyemir ubanku. 

"Kamu tahu kan, uban itu masih rambutmu?" katanya. Aku diam saja.
"Mengapa hanya karena rambutmu memutih lantas kau menolaknya?" lanjutnya.
Kukatakan padanya bahwa aku perlu terlihat profesional ketika bekerja, dan ubanku membuatku terlihat lelah. Roh cermin terpingkal sejenak. "Kau itu memang lelah. Orang yang lelah seharusnya beristirahat, cat rambut murahan itu bukan solusi". Sungguh cerewet dan bawel. Aku tak menyahut lagi.



Kemarin malam aku berjumpa dengan roh lain. Sesungguhnya aku tak menyangka bisa bertemu dengan roh satu ini. Ia tinggal di dalam sebuah kalender hadiah gratis dari toko emas. Bentuknya biasa saja, tak tampak menarik, bahkan cenderung amburadul. Roh itu menepuk bahuku.

"Mau sampai kapan kau mengabaikan aku?" kata roh itu.
Sialan, batinku. Mengapa ia tahu kalau selama ini aku tak mau menyapanya?
"Namaku Mei" katanya. "Aku tidak tanya" jawabku.
"Oh, ketus ya?" Roh itu menyeringai. Wajahnya mirip aku. Mengapa sih, harus mirip aku?

"Kudengar kau baru saja selesai berjumpa dengan April. Dan aku tahu kau membencinya dengan segenap hatimu" 
"Lho, itu tahu. Bilang padanya, dia itu kejam sekali. Merepotkan dan melelahkan jiwa ragaku"
"Kau salah besar. Aprilku itu justru sangat jujur padamu. Tidak memberimu janji manis yang biasanya diingkari. Kau semestinya mengucapkan banyak terima kasih pada Aprilku" katanya.

Kukatakan padanya bahwa air mataku akan selamanya dikarenakan oleh Aprilnya itu. Kukatakan padanya bahwa dadaku telah penuh sesak dengan hikmah. Kukatakan padanya bahwa aku sudah melepaskan segala hal.

"Dan itu berkat Aprilku kan? Aprilku yang memaksamu menjadi berani. Menggiringmu ke sana kemari. Merontokkan segala kepahitanmu yang selama ini kau simpan rapi di sudut perasaanmu. Tanpa Aprilku kamu akan tetap bebal dan selalu eman-eman dengan begitu banyak hal yang tak lagi untukmu"

"Cerewet sekali kamu ya" kataku.
"Bencilah aku sesukamu. Tapi aku tahu aku benar. Dan selalu benar. Baiklah kalau demikian, aku pergi. Kau sedang tak ramah"

Roh kalender itu hendak menghilang saat aku memanggilnya.
"Tunggu dulu"
Ia menoleh. Kukatakan padanya untuk memberiku sedikit penglihatan tentang Mei. Ia memandangku lama lalu tersenyum. 
"Rahasia"
"Oh, ayolah sedikit saja" aku membujuknya.
"Terima kasih kau sudah melepaskan mereka. Tugasku akan jadi lebih ringan" lalu ia menghilang.

Sialan. Aku paling tidak suka penasaran. Atau apakah aku suka? Aku diam lalu bersiap tidur. Baru saja menarik selimut, roh jam dinding mulai meracau dalam angka.
"Jangan sekarang. Aku ngantuk"
"Baiklah. Selamat tidur ya"
Aku melongo. Itu adalah pertama kalinya ia berbicara dalam kata.

Kucing Manis, 01-05-2026 


Letupan berbunga

Sejauh aku dapat mengingat, banyak letupan kehilangan yang berbunga di sana-sini. Seperti waktu terakhir kali aku mendapati bapakku diam-diam mencuci sepeda motorku di depan garasi. Dengan menggunakan air dari selang yang biasanya dipakai ibuku menyirami tanamannya. Tak lama dari hari itu, bapakku jatuh sakit.

Juga waktu aku menghitung jumlah uban di atas kepalaku. Ada berpuluh-puluh rambut yang memutih. Ada berhelai-helai pikiran yang telah masak. Ada beratus-ratus cemas yang gugur lalu tumbuh lagi. Semuanya itu bergulung-gulung dalam ombak yang tercipta di dalam kepalaku.

Lantas aku mengamati tangan dan kakiku. Lengkap dengan bekas-bekas luka dari masa kecil hingga masa sekarang. Sudah berapa ratus kilometer kakiku melangkah dari satu mimpi ke mimpi yang lain? Dari satu kesalahan ke kesalahan yang lain. Dari dia ke dia yang lain. Juga tanganku yang telah mengingat lekuk tulisan tanganmu, yang agak berantakan, rumit, dan selalu menyembunyikan sesuatu.

Kadang aku ingin melenyapkan beberapa orang dari kepalaku. Seperti anak kecil yang membakar habis petasan mereka di sore hari. Dengan berisik, dengan nekat, dengan tanpa pikir panjang.

Sayangnya aku terlalu perhitungan untuk urusan macam ini. Aku suka menyimpan kesedihan seperti pembaca yang melipat pojok halaman bukunya, hingga meninggalkan bekas yang jelek.

Apakah bekas lipatan itu benar-benar jelek? Atau itu sesungguhnya hanya tanda biasa yang kebetulan pas kena di hatimu?

Terakhir aku melongok ke dalam dadaku sendiri. Terdapat lipatan, letupan, ledakan yang tersusun rapi menjadi anyaman yang kuisi dengan apapun, semauku, dan kapanpun.



Kucing Manis, 08-03-2026

Sabtu, 04 Juli 2026

Aku dan Masa Kecilnya

Kalau saja bisa, aku ingin menangkap masa kecil bapakku. Waktu pertama kali aku mengenal bapakku, ia sudah terlanjur menjadi manusia dewasa dengan kumis dan tato burung di dada kirinya. Ia sudah terlanjur berperan dan terjebak dalam tugasnya sebagai bapakku. Ia sudah terlanjur larut dalam kebiasaannya menjaga aku.

Kalau saja bisa, aku ingin mengejar masa kecil bapakku. Waktu ia kehilangan orangtuanya sejak muda. Aku ingin melihatnya menangis melalui matanya sebagai anak remaja. Aku ingin tahu apakah air mataku sama dengan air matanya. Apakah ia juga sering tidur sambil menata ulang rasa rindunya agar tidak berceceran dan berantakan.

Kalau saja bisa, aku ingin menyimpan masa kecil bapakku. Mungkin akan kutaruh di dalam diriku agar aku dapat memahami kenapa ia sangat suka memancing dan menulis dengan tinta isi ulang.

Dan kemudian aku ingin membawa masa kecil bapakku itu ke hadapan bapakku. Barangkali ia sudah lupa tentang sensasi main petak umpet dengan kakaknya. Atau perasaan manis waktu ia makan es lilin di suatu hari yang kebetulan hujan.

Karena ia kini terlanjur tua. Kebahagiannya sudah tidak lagi soal petak umpet dan memancing. Kini ia bahagia kalau aku pulang membawa sekotak martabak, kalau aku pulang membawa keripik jagung, kalau aku pulang membawa kaos baru untuknya.

Ia tidak ingat lagi tentang kegembiraan masa kecilnya. Apakah ia masih merindukan orangtuanya? Pernahkah ia bertanya-tanya mengapa ia kini lebih tua ketimbang orangtuanya? Apakah air matanya yang sekarang lebih asin ketimbang air matanya saat ia kecil? Atau apakah ia juga merasa ingin menangkap masa kecilku?

Tapi kurasa tidak. Bapakku adalah seluruh masa kecilku. Ia tidak perlu repot-repot mengejar dan menyimpan hal itu. Dan kalau bisa, aku ingin menanam masa kecil bapakku bersebelahan dengan masa kecilku. Terus tumbuh dan tak mati-mati. Mungkin layu sebentar. Lalu kehujanan dan segar lagi. Terus saja seperti itu sampai terjebak dalam siklus, melingkar, menguar, mekar.



Kucing Manis, 01-03-2025

Aku dan Mata Kekasihku

Aku adalah perempuan yang aneh. Karena aku memiliki hobi yang aneh.

Aku suka mengoleksi mata.

Aku suka memungut mata-mata temanku saat aku menemui mereka di sebuah warung kopi. Aku menangkap raut mata mereka yang bermacam-macam. Dengan hati-hati, aku akan mencuri raut mata mereka dan menyimpannya dalam sebuah bingkai. Aku akan pulang, lalu menatap raut mata itu dalam-dalam. Kadang juga aku bercakap-cakap dengan mata-mata itu. Aneh memang.

Dari semua mata yang aku kumpulkan, aku paling suka mata kekasihku. Rautnya selalu rumit dan sukar ditangkap. Tapi aku sudah lihai. Kadang aku menangkap mata kosong kekasihku. Kubawa pulang, kubersihkan, lalu kuisi dengan binar-binar.


Di lain hari, aku membawa pulang raut mata kecemasannya. Tajam sekali sudutnya, salah sedikit aku bisa tertusuk. Kalau sedang hujan, mata rindunya akan menggenang, berkilauan, mirip kaca. Dengan cermat aku mulai melihat bayangan bapaknya lewat pantulan genangan matanya. Bapaknya sudah tua dan hanya muncul kalau hujan.

Kalau hari sedang panas dan keringat kekasihku mengalir deras, mata nyalangnya tiba. Aku membuka matanya seperti sebilah pintu dan begitu masuk, aku tenggelam dalam gelora mimpinya yang sebentar-sebentar menguap.

Aku telah menyimpan ribuan bingkai mata kekasihku. Aku mengenalinya satu per satu. Aku mengingat semua sudut dan ekornya. Aku dapat dengan mudah melongok ke dalam perasaannya. Meski begitu, ada satu yang selalu gagal kutangkap. Satu sorot mata itu. Berkali-kali aku berusaha menafsirkannya dan berkali-kali pula aku kewalahan menangkap sorotnya.

Mata yang itu hanya muncul waktu aku dan dia bercinta. Mata yang itu terasa teduh tetapi nyaring. Seperti hujan deras yang mengetuk-ngetuk daun jendelaku. Dan saat aku merasa hampir bisa menangkap raut matanya, kekasihku malah menciumku, lalu hampir bisa dipastikan, aku tenggelam dalam gerhana matanya.


Kucing Manis, 02-02-2025

Aku dan Hidupku sebagai Jamur.


Aku telah berulang kali lahir ke bumi ini. Aku pernah menjadi wanita, lelaki, ibu, petani, perampok, anak kecil. Dan pagi ini aku terlahir menjadi jamur.

Aku tidak lahir menjadi jamur cantik warna merah atau jamur tiram yang disukai warga. Aku adalah jamur yang tumbuh dari kotoran kerbau. Para orang tua melarang anak remaja mereka mendekatiku. Karena mereka bilang aku akan merusak pikiran mereka.Tukang copet dan anak terlantar malah mendekatiku dan ingin memakanku. Entah apa yang mereka cari dengan melahap diriku. Yang aku tahu, bahwa aku hanya tumbuh.

Udara terasa amat dingin waktu aku lahir sebagai jamur. Matahari hampir bangun, tapi belum. Kotoran kerbau terasa hangan menyelimuti akar jamurku. Warnaku juga kurang menarik, tentu saja cuma lalat yang menjenguk dan merayakan hari kelahiranku sebagai jamur.

"Terima kasih kalian telah membesuk aku," kataku. "Kamu tidak usah GR, kami ke sini bukan karena kelahiranmu, kami cuma suka kotoran yang kau duduki itu," kata para lalat. Lantas aku diam saja. Baru juga lahir, tapi aku sudah mengalami penolakan macam ini. Aku menduga-duga apakah ini karmaku karena sebelumnya aku adalah tukang rampok?

Seorang pemuda tanggung kulihat berjalan menghampiriku. Kemudian ia berjongkok menatap kotoran kerbau tempatku tumbuh. Jari-jarinya perlahan meraih tubuhku. Lalu sebelum sempat menyadarinya, kini aku hidup di saku bajunya. Suara detak jantungnya terdengar jelas. Aneh, karena aku kan, tak punya kuping.

Pemuda tanpa nama itu lantas meraih sakunya, menjepit tubuhku di antara telunjuk dan jempolnya. Aku pasrah saja, aku tak punya mulut untuk berteriak minta tolong. Pemuda itu membuka mulut, aku mendarat di atas lidahnya. Kasar dan basah. Hangat. Belum lama aku menikmati hangat mulutnya, barisan gigi mulai melumat badanku. Aneh, aku tak merasa sakit. Aku tertelan melewati kerongkongannya. Sempit tapi hangat.

Dan kemudian aku mulai melihat semuanya. Kesedihan pemuda itu.

Aku melihat ingatannya akan suatu petang saat ia dihajar bapaknya lantaran mencuri rokok di warung. Aku melihat tangis ibunya sehabis ditampar bapaknya. Aku mendengar doa-doanya yang ia bisikkan pada Tuhannya. Aku menyaksikan air matanya yang sering menetes malam-malam.

Tapi aku cuma jamur. Yang tak dapat memeluknya. Tak dapat menepuk-nepuk punggungnya. Tak dapat memberitahunya bahwa kalau ia tak bahagia, maka masih ada kehidupan selanjutnya.

Kenangan-kenangan itu kulihat dalam keheningan. Kuserap semampunya. Kuterima tanpa rasa jijik. Entah berapa ribu adegan yang kusaksikan. Aku tak dapat menghitungnya. Tak lama semua menjadi gelap, tapi hangat. Apa sekarang?

Sudah rampungkah hidupku sebagai jamur? Sudah bergunakah aku kali ini? Aku pasrah dan lantas terurai. Hilang lagi. Tapi aku tahu, selanjutnya aku akan kembali ada. Mudah-mudahan kali berikutnya aku akan menjadi kupu-kupu.


Kucing Manis, 25-01-2025




Aku dan Hidup yang Biasa Saja

Hari ini aku bangun siang. Tepat pukul sepuluh. Walau itu masih termasuk pagi, tapi kata ibu itu namanya kesiangan.

Aku lantas mandi. Ada tai kucing di lantai kamar mandi. Aku menyiramnya. Padahal itu bukan kucingku. Itu kucing liar yang tinggal di rumahku. Dia numpang makan dan numpang berak. Sebagai tanda terima kasih, dia menangkap tikus di dapur ibu. Walau bagiku kucing itu sebaiknya dibuang, tapi menurut ibu itu namanya kasihan.

Habis mandi aku ke kamar. Pakai baju dan lain-lain. Mataku memandang sebungkus pembalut di atas rak. Tinggal dua. Untung kemarin aku sudah membeli sebungkus pembalut dengan ekstrak daun sirih. Juga katanya pembalut itu dapat memberi sensasi dingin semriwing. Kapan aku akan datang bulan? Menurut kalender dua hari lagi. Kalau memang benar semriwing, maka akan enak. Tapi kalau tidak, maka itu namanya korban iklan.


Di atas plafon kamarku ada ratusan semut hitam yang sudah berbaris melintasi tembok, turun ke rak buku, menuju jendela. Kalau ada sebaris semut yang melintas di pinggir rak buku, aku suka menyemproti mereka dengan parfum KW yang aku beli di shopee. Kukira parfum itu enak, tapi ternyata tidak. Kukira aku telah sia-sia membelinya, tapi ternyata sekarang berguna. Lumayan, aku tidak usah beli Baygon atau Bagus Kapur Ajaib. Parfum KW-ku cukup manjur menyingkirkan semut hitam itu.

Kemudian aku meraih kotak sepatu warrior hitam yang sudah berumur hampir sepuluh tahun. Kalau pakai sepatu ini, aku tidak lantas menjadi warrior. Aku tetaplah orang biasa yang sering bingung tentang ini-itu. Kalau bisa memilih, pasti aku memilih jadi warrior yang dengan mudah menumpas masalah. Untukku itu impian, tapi untuk ibuku itu namanya ngayal.

Aku keluar dari kamarku, menuju belakang rumah, tempat sepeda motorku berada. Spionnya cuma satu. Aku menghidupkan mesinnya. Di POM bensin aku salah mengambil jalur antrian. Akhirnya aku membeli Pertamax alih-alih Pertalite. Pasti motorku membatin, "tumben, nih".


Kucing Manis, 19-01-2025

Hanya Untuk Bersembunyi

Pada hari ini, detik ini, aku bangun dan memilih untuk kembali telanjang. Aku menanggalkan pakaianku, topiku, kasutku, selendangku, cincinku...