Sabtu, 11 Juli 2026

Letupan berbunga

Sejauh aku dapat mengingat, banyak letupan kehilangan yang berbunga di sana-sini. Seperti waktu terakhir kali aku mendapati bapakku diam-diam mencuci sepeda motorku di depan garasi. Dengan menggunakan air dari selang yang biasanya dipakai ibuku menyirami tanamannya. Tak lama dari hari itu, bapakku jatuh sakit.

Juga waktu aku menghitung jumlah uban di atas kepalaku. Ada berpuluh-puluh rambut yang memutih. Ada berhelai-helai pikiran yang telah masak. Ada beratus-ratus cemas yang gugur lalu tumbuh lagi. Semuanya itu bergulung-gulung dalam ombak yang tercipta di dalam kepalaku.

Lantas aku mengamati tangan dan kakiku. Lengkap dengan bekas-bekas luka dari masa kecil hingga masa sekarang. Sudah berapa ratus kilometer kakiku melangkah dari satu mimpi ke mimpi yang lain? Dari satu kesalahan ke kesalahan yang lain. Dari dia ke dia yang lain. Juga tanganku yang telah mengingat lekuk tulisan tanganmu, yang agak berantakan, rumit, dan selalu menyembunyikan sesuatu.

Kadang aku ingin melenyapkan beberapa orang dari kepalaku. Seperti anak kecil yang membakar habis petasan mereka di sore hari. Dengan berisik, dengan nekat, dengan tanpa pikir panjang.

Sayangnya aku terlalu perhitungan untuk urusan macam ini. Aku suka menyimpan kesedihan seperti pembaca yang melipat pojok halaman bukunya, hingga meninggalkan bekas yang jelek.

Apakah bekas lipatan itu benar-benar jelek? Atau itu sesungguhnya hanya tanda biasa yang kebetulan pas kena di hatimu?

Terakhir aku melongok ke dalam dadaku sendiri. Terdapat lipatan, letupan, ledakan yang tersusun rapi menjadi anyaman yang kuisi dengan apapun, semauku, dan kapanpun.



Kucing Manis, 08-03-2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hanya Untuk Bersembunyi

Pada hari ini, detik ini, aku bangun dan memilih untuk kembali telanjang. Aku menanggalkan pakaianku, topiku, kasutku, selendangku, cincinku...