Pada hari ini, detik ini, aku bangun dan memilih untuk kembali telanjang. Aku menanggalkan pakaianku, topiku, kasutku, selendangku, cincinku, kecamataku, topengku. Segala hal yang telah lama kupakai dengan hati-hati dan seksama, hanya untuk bersembunyi. Aku melihat tubuhku yang telanjang, dengan utuh, dengan rindu, dengan ngilu, dengan curiga, dengan waspada, dengan takut.
Kulitku memang bersih, tapi tidak.
Sudah sejak lama aku menggulung dan melipat rapi setiap ucapan ibu yang perih. Aku menyusun kata-kata ibu di sekujur lapisan kulit ariku, tak terlalu dalam, tak terlalu kentara juga. Hanya cukup jelas bagi otakku untuk menghafalnya. Dan ternyata itu tidak apa-apa.
Rambutku memang bersih, tapi tidak.
Aku merekam belaian tangan bapakku yang mengusap kepalaku saat aku sedang marah. Aku mencatat jari guruku yang menjambak rambutku ketika aku lupa mengerjakan PR matematika. Aku memetakan keringat yang menuruni kulit kepalaku waktu aku lupa membawa topi saat upacara bendera kemerdekaan Indonesia.
Mataku memang rabun, tapi tidak.
Aku telah melihat beragam pertengkaran dan pengkhianatan yang terjadi di rumahku. Aku menyimpan adegan itu di kedua sudut mataku. Sudut mata kiriku dan sudut mata kananku kadang tak saling setuju. Itulah mengapa kedua mataku tak menangis bersama.
Mulutku memang normal, tapi tidak.
Aku telah berdoa dan mencaci dan memaafkan dan menghina dan mencium dan meludah dengan mulut yang sama. Kebenaran dan kejujuran yang sudah sangat putus asa ingin menyeruak, telah sering kubungkam dengan tembakau dan asap, hanya agar mataku tak perlu lagi menciptakan air mata.
Pada hari ini, detik ini, aku bangun dan memilih untuk kembali telanjang. Aku menanggalkan pakaianku. Aku menanggalkan aku. Aku melihat tubuhku yang telanjang, dengan utuh, dengan riuh, dengan remuk, dengan nyaman, dengan tenang.
Kucing Manis, 28-06-2026