Sabtu, 04 Juli 2026

Aku dan Hidupku sebagai Jamur.


Aku telah berulang kali lahir ke bumi ini. Aku pernah menjadi wanita, lelaki, ibu, petani, perampok, anak kecil. Dan pagi ini aku terlahir menjadi jamur.

Aku tidak lahir menjadi jamur cantik warna merah atau jamur tiram yang disukai warga. Aku adalah jamur yang tumbuh dari kotoran kerbau. Para orang tua melarang anak remaja mereka mendekatiku. Karena mereka bilang aku akan merusak pikiran mereka.Tukang copet dan anak terlantar malah mendekatiku dan ingin memakanku. Entah apa yang mereka cari dengan melahap diriku. Yang aku tahu, bahwa aku hanya tumbuh.

Udara terasa amat dingin waktu aku lahir sebagai jamur. Matahari hampir bangun, tapi belum. Kotoran kerbau terasa hangan menyelimuti akar jamurku. Warnaku juga kurang menarik, tentu saja cuma lalat yang menjenguk dan merayakan hari kelahiranku sebagai jamur.

"Terima kasih kalian telah membesuk aku," kataku. "Kamu tidak usah GR, kami ke sini bukan karena kelahiranmu, kami cuma suka kotoran yang kau duduki itu," kata para lalat. Lantas aku diam saja. Baru juga lahir, tapi aku sudah mengalami penolakan macam ini. Aku menduga-duga apakah ini karmaku karena sebelumnya aku adalah tukang rampok?

Seorang pemuda tanggung kulihat berjalan menghampiriku. Kemudian ia berjongkok menatap kotoran kerbau tempatku tumbuh. Jari-jarinya perlahan meraih tubuhku. Lalu sebelum sempat menyadarinya, kini aku hidup di saku bajunya. Suara detak jantungnya terdengar jelas. Aneh, karena aku kan, tak punya kuping.

Pemuda tanpa nama itu lantas meraih sakunya, menjepit tubuhku di antara telunjuk dan jempolnya. Aku pasrah saja, aku tak punya mulut untuk berteriak minta tolong. Pemuda itu membuka mulut, aku mendarat di atas lidahnya. Kasar dan basah. Hangat. Belum lama aku menikmati hangat mulutnya, barisan gigi mulai melumat badanku. Aneh, aku tak merasa sakit. Aku tertelan melewati kerongkongannya. Sempit tapi hangat.

Dan kemudian aku mulai melihat semuanya. Kesedihan pemuda itu.

Aku melihat ingatannya akan suatu petang saat ia dihajar bapaknya lantaran mencuri rokok di warung. Aku melihat tangis ibunya sehabis ditampar bapaknya. Aku mendengar doa-doanya yang ia bisikkan pada Tuhannya. Aku menyaksikan air matanya yang sering menetes malam-malam.

Tapi aku cuma jamur. Yang tak dapat memeluknya. Tak dapat menepuk-nepuk punggungnya. Tak dapat memberitahunya bahwa kalau ia tak bahagia, maka masih ada kehidupan selanjutnya.

Kenangan-kenangan itu kulihat dalam keheningan. Kuserap semampunya. Kuterima tanpa rasa jijik. Entah berapa ribu adegan yang kusaksikan. Aku tak dapat menghitungnya. Tak lama semua menjadi gelap, tapi hangat. Apa sekarang?

Sudah rampungkah hidupku sebagai jamur? Sudah bergunakah aku kali ini? Aku pasrah dan lantas terurai. Hilang lagi. Tapi aku tahu, selanjutnya aku akan kembali ada. Mudah-mudahan kali berikutnya aku akan menjadi kupu-kupu.


Kucing Manis, 25-01-2025




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hanya Untuk Bersembunyi

Pada hari ini, detik ini, aku bangun dan memilih untuk kembali telanjang. Aku menanggalkan pakaianku, topiku, kasutku, selendangku, cincinku...