Minggu, 15 Maret 2026

Tuhan dalam satu babak

Tuhan melebur dalam

lakon satu babak,

suara-Nya menjelma

percakapan sengit antara

kenapa dan karena.

Tuhan menguap dalam

kebun satu petak,

raga-Nya menjelma

halimun tipis antara

pendar dan sinar.

Tuhan mendengkur dalam

rosari satu utas,

wajah-Nya menjelma

pembuluh nadi antara

terjal dan kekal.


15/2/2026



Tjandoe

Sepasang kekasih tengah

asik bercinta pada

sepotong malam,


mendaraskan desah

tanpa resah,


merapalkan lenguh

sampai penuh,


menuntaskan candu

dalam rindu.


22/1/2026



Roman 3

Seperti air yang mengering

di sudut jendelamu,

aku meminyaki engselmu

yang berderit itu.

Seperti cemara yang beku

di ujung musimmu,

aku menuruni kulit kayumu

yang retak itu.

Seperti senja yang merekah

di sisi bola matamu,

aku merekam prasangkamu

yang ranum itu.


19/1/2026



Roman 2

Sekelopak bunga terbuka

Menyingkap putik yang

Tengah asik bercinta

Dengan benang sari.

Segulung ombak terlampir

Mengulum buih yang

Terlanjur sibuk bercumbu

Dengan bibir pantai.

Sehelai awan terkembang

Mengirim hujan yang

Telah rindu bersetubuh

Dengan akar pohon.


14/1/2026



Roman 1

Di sudut bibirmu itu

Aku menitipkan tawa

Yang terlalu malu

Untuk kugelakkan sendiri


Di lengkung matamu itu

Aku menanamkan binar

Yang terlalu takut

Untuk kukedipkan sendiri


Di tepian jarimu itu

Aku menyelipkan rengkuh

Yang terlalu ragu

Untuk kugenggamkan sendiri


Denpasar, 12/1/2026



Lebur-Labuh

Di antara yang berderu itulah

Aku tidak melebur

Aku tetap aku

Lengkap bersama seluk dan lekuk.


Di antara yang berdesir itulah

Aku tidak mengabur

Aku masih aku

Mekar bersama satir dan semilir.


Di antara yang berderai itulah

Aku tidak menghancur

Aku memang aku

Tenang bersama sauh dan labuh.


Denpasar, 11/1/2026



Sabtu, 14 Maret 2026

Senyawa

Senyawa ibuku senantiasa melebur dalam sel-sel tubuhku. Mengalir tanpa henti ke buku-buku jariku. Menggerakkan tanganku untuk memintal mimpi-mimpi yang kadang kandas.

Sementara itu keringat bapakku kian menetes pada kebun-kebun. Menumbuhkan bunga, menyirami pagar, menyinari taman.

Dan aku masih sibuk membangun pagar-pagar bambu.

Tempatku merawat keringat bapak, tempatku menyalurkan ribuan senyawa ibu, tempatku mengupas apa yang telah kandas. Helai demi helai. Agar mereka abadi.

Agar bongkok bapakku berubah menjadi suaka, dan keriput ibuku mekar di sana-sini.


Kucing Manis,11/8/2024



Hanya Untuk Bersembunyi

Pada hari ini, detik ini, aku bangun dan memilih untuk kembali telanjang. Aku menanggalkan pakaianku, topiku, kasutku, selendangku, cincinku...