Sabtu, 04 Juli 2026

Aku dan Mata Kekasihku

Aku adalah perempuan yang aneh. Karena aku memiliki hobi yang aneh.

Aku suka mengoleksi mata.

Aku suka memungut mata-mata temanku saat aku menemui mereka di sebuah warung kopi. Aku menangkap raut mata mereka yang bermacam-macam. Dengan hati-hati, aku akan mencuri raut mata mereka dan menyimpannya dalam sebuah bingkai. Aku akan pulang, lalu menatap raut mata itu dalam-dalam. Kadang juga aku bercakap-cakap dengan mata-mata itu. Aneh memang.

Dari semua mata yang aku kumpulkan, aku paling suka mata kekasihku. Rautnya selalu rumit dan sukar ditangkap. Tapi aku sudah lihai. Kadang aku menangkap mata kosong kekasihku. Kubawa pulang, kubersihkan, lalu kuisi dengan binar-binar.


Di lain hari, aku membawa pulang raut mata kecemasannya. Tajam sekali sudutnya, salah sedikit aku bisa tertusuk. Kalau sedang hujan, mata rindunya akan menggenang, berkilauan, mirip kaca. Dengan cermat aku mulai melihat bayangan bapaknya lewat pantulan genangan matanya. Bapaknya sudah tua dan hanya muncul kalau hujan.

Kalau hari sedang panas dan keringat kekasihku mengalir deras, mata nyalangnya tiba. Aku membuka matanya seperti sebilah pintu dan begitu masuk, aku tenggelam dalam gelora mimpinya yang sebentar-sebentar menguap.

Aku telah menyimpan ribuan bingkai mata kekasihku. Aku mengenalinya satu per satu. Aku mengingat semua sudut dan ekornya. Aku dapat dengan mudah melongok ke dalam perasaannya. Meski begitu, ada satu yang selalu gagal kutangkap. Satu sorot mata itu. Berkali-kali aku berusaha menafsirkannya dan berkali-kali pula aku kewalahan menangkap sorotnya.

Mata yang itu hanya muncul waktu aku dan dia bercinta. Mata yang itu terasa teduh tetapi nyaring. Seperti hujan deras yang mengetuk-ngetuk daun jendelaku. Dan saat aku merasa hampir bisa menangkap raut matanya, kekasihku malah menciumku, lalu hampir bisa dipastikan, aku tenggelam dalam gerhana matanya.


Kucing Manis, 02-02-2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hanya Untuk Bersembunyi

Pada hari ini, detik ini, aku bangun dan memilih untuk kembali telanjang. Aku menanggalkan pakaianku, topiku, kasutku, selendangku, cincinku...