Sabtu, 04 Juli 2026

Aku dan Masa Kecilnya

Kalau saja bisa, aku ingin menangkap masa kecil bapakku. Waktu pertama kali aku mengenal bapakku, ia sudah terlanjur menjadi manusia dewasa dengan kumis dan tato burung di dada kirinya. Ia sudah terlanjur berperan dan terjebak dalam tugasnya sebagai bapakku. Ia sudah terlanjur larut dalam kebiasaannya menjaga aku.

Kalau saja bisa, aku ingin mengejar masa kecil bapakku. Waktu ia kehilangan orangtuanya sejak muda. Aku ingin melihatnya menangis melalui matanya sebagai anak remaja. Aku ingin tahu apakah air mataku sama dengan air matanya. Apakah ia juga sering tidur sambil menata ulang rasa rindunya agar tidak berceceran dan berantakan.

Kalau saja bisa, aku ingin menyimpan masa kecil bapakku. Mungkin akan kutaruh di dalam diriku agar aku dapat memahami kenapa ia sangat suka memancing dan menulis dengan tinta isi ulang.

Dan kemudian aku ingin membawa masa kecil bapakku itu ke hadapan bapakku. Barangkali ia sudah lupa tentang sensasi main petak umpet dengan kakaknya. Atau perasaan manis waktu ia makan es lilin di suatu hari yang kebetulan hujan.

Karena ia kini terlanjur tua. Kebahagiannya sudah tidak lagi soal petak umpet dan memancing. Kini ia bahagia kalau aku pulang membawa sekotak martabak, kalau aku pulang membawa keripik jagung, kalau aku pulang membawa kaos baru untuknya.

Ia tidak ingat lagi tentang kegembiraan masa kecilnya. Apakah ia masih merindukan orangtuanya? Pernahkah ia bertanya-tanya mengapa ia kini lebih tua ketimbang orangtuanya? Apakah air matanya yang sekarang lebih asin ketimbang air matanya saat ia kecil? Atau apakah ia juga merasa ingin menangkap masa kecilku?

Tapi kurasa tidak. Bapakku adalah seluruh masa kecilku. Ia tidak perlu repot-repot mengejar dan menyimpan hal itu. Dan kalau bisa, aku ingin menanam masa kecil bapakku bersebelahan dengan masa kecilku. Terus tumbuh dan tak mati-mati. Mungkin layu sebentar. Lalu kehujanan dan segar lagi. Terus saja seperti itu sampai terjebak dalam siklus, melingkar, menguar, mekar.



Kucing Manis, 01-03-2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hanya Untuk Bersembunyi

Pada hari ini, detik ini, aku bangun dan memilih untuk kembali telanjang. Aku menanggalkan pakaianku, topiku, kasutku, selendangku, cincinku...