Sabtu, 11 Juli 2026

Roh Kalender

Sebenarnya ini adalah rahasia. Tak banyak yang tahu. Tak sering kuceritakan. Tapi kali ini aku sedang ingin mengatakannya. Aku bisa berbicara dengan roh.

Setiap benda yang ada di dekatku terdapat satu roh. Kadang mereka perempuan, kadang juga lelaki. Ada roh yang tua, ada pula yang muda. Banyak yang pendiam, tapi jika beruntung aku bisa bertemu dengan roh yang cerewet.

Jam dindingku misalnya, menjadi tempat bernaung sesosok roh yang pendiam. Ia berbicara melalui angka-angka dan aku yang tak paham matematika ini selalu kebingungan menangkap maknanya. Maka kubiarkan saja roh itu meracau dalam angka, tak pernah kusanggah.

Ada juga roh cermin yang gemar meniru diriku. Ia berbicara melalui mimik wajah dan ia cerewet setengah mati. Kesukaannya adalah menghitung keriput di sudut mataku dan menertawakan aku setiap kali aku menyemir ubanku. 

"Kamu tahu kan, uban itu masih rambutmu?" katanya. Aku diam saja.
"Mengapa hanya karena rambutmu memutih lantas kau menolaknya?" lanjutnya.
Kukatakan padanya bahwa aku perlu terlihat profesional ketika bekerja, dan ubanku membuatku terlihat lelah. Roh cermin terpingkal sejenak. "Kau itu memang lelah. Orang yang lelah seharusnya beristirahat, cat rambut murahan itu bukan solusi". Sungguh cerewet dan bawel. Aku tak menyahut lagi.



Kemarin malam aku berjumpa dengan roh lain. Sesungguhnya aku tak menyangka bisa bertemu dengan roh satu ini. Ia tinggal di dalam sebuah kalender hadiah gratis dari toko emas. Bentuknya biasa saja, tak tampak menarik, bahkan cenderung amburadul. Roh itu menepuk bahuku.

"Mau sampai kapan kau mengabaikan aku?" kata roh itu.
Sialan, batinku. Mengapa ia tahu kalau selama ini aku tak mau menyapanya?
"Namaku Mei" katanya. "Aku tidak tanya" jawabku.
"Oh, ketus ya?" Roh itu menyeringai. Wajahnya mirip aku. Mengapa sih, harus mirip aku?

"Kudengar kau baru saja selesai berjumpa dengan April. Dan aku tahu kau membencinya dengan segenap hatimu" 
"Lho, itu tahu. Bilang padanya, dia itu kejam sekali. Merepotkan dan melelahkan jiwa ragaku"
"Kau salah besar. Aprilku itu justru sangat jujur padamu. Tidak memberimu janji manis yang biasanya diingkari. Kau semestinya mengucapkan banyak terima kasih pada Aprilku" katanya.

Kukatakan padanya bahwa air mataku akan selamanya dikarenakan oleh Aprilnya itu. Kukatakan padanya bahwa dadaku telah penuh sesak dengan hikmah. Kukatakan padanya bahwa aku sudah melepaskan segala hal.

"Dan itu berkat Aprilku kan? Aprilku yang memaksamu menjadi berani. Menggiringmu ke sana kemari. Merontokkan segala kepahitanmu yang selama ini kau simpan rapi di sudut perasaanmu. Tanpa Aprilku kamu akan tetap bebal dan selalu eman-eman dengan begitu banyak hal yang tak lagi untukmu"

"Cerewet sekali kamu ya" kataku.
"Bencilah aku sesukamu. Tapi aku tahu aku benar. Dan selalu benar. Baiklah kalau demikian, aku pergi. Kau sedang tak ramah"

Roh kalender itu hendak menghilang saat aku memanggilnya.
"Tunggu dulu"
Ia menoleh. Kukatakan padanya untuk memberiku sedikit penglihatan tentang Mei. Ia memandangku lama lalu tersenyum. 
"Rahasia"
"Oh, ayolah sedikit saja" aku membujuknya.
"Terima kasih kau sudah melepaskan mereka. Tugasku akan jadi lebih ringan" lalu ia menghilang.

Sialan. Aku paling tidak suka penasaran. Atau apakah aku suka? Aku diam lalu bersiap tidur. Baru saja menarik selimut, roh jam dinding mulai meracau dalam angka.
"Jangan sekarang. Aku ngantuk"
"Baiklah. Selamat tidur ya"
Aku melongo. Itu adalah pertama kalinya ia berbicara dalam kata.

Kucing Manis, 01-05-2026 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hanya Untuk Bersembunyi

Pada hari ini, detik ini, aku bangun dan memilih untuk kembali telanjang. Aku menanggalkan pakaianku, topiku, kasutku, selendangku, cincinku...