Waktu kecil aku sudah belajar caranya selesai.
Waktu itu ibu memutuskan bahwa puting susunya tak lagi boleh kuisap. Aku tidak lagi bisa menyesap air susu ibuku yang manis. Aku tidak lagi boleh tidur lelap dekat payidara ibuku yang tenteram. Aku harus menemukan kedamaian dari tempat yang lain.
Lantas pada suatu pagi, ayahku tak lagi memandikan aku. Aku tidak lagi dibalut handuk warna-warni dalam dekapan ayah. Sekarang aku mandi sendiri. Memakai celana dalamku sendiri. Memakai kutangku sendiri.
Kemudian di hari lain, kakekku tak lagi mengantarku ke sekolah. Aku tidak lagi mengadu pada kakek sewaktu temanku menjambak rambutku. Aku tidak lagi mencari kakek sewaktu bu guru memarahi aku. Aku menyelesaikan PRku sendiri. Aku jajan sendiri.
Dan aku juga tidak lagi disuapi nenek. Nenek berhenti mengulurkan sendok berisi sop ceker ayam ke mulutku. Nenek tidak lagi menggorengkan aku telur dadar sebelum sekolah. Aku makan sendiri dan mencuci piringku sendiri. Lalu aku mulai merasa fasih. Memilih semua sendiri. Menyelesaikan ini-itu juga sendiri. Aku fasih, benar-benar fasih.
Dan ruang-ruang di dalam hatiku mulai tumbuh lengkap dengan tembok, keramik, pintu, dan daun jendela. Ruang di hatiku memang tidak mirip istana, namun ruang itu tetap hangat serta lembut. Kemudian orang-orang mulai mengetuk dan singgah di dalamnya. Beberapa membawa kesedihan, beberapa membawa tanda tanya, beberapa menitipkan kosong.
Dan tiba-tiba aku merasa tak fasih dengan kosong. Bagaimana caranya menyelesaikan kosong? Apakah kalau diisi maka kosong itu akan selesai?
Maka kosong-kosong itu kutaruh dengan rapi dan seksama di tembokku. Kubingkai satu-satu. Kurawat dengan kasih sayang. Tapi kosong tetap kosong. Lama-lama ruangku penuh sesak dengan kosong.
Aku mengikat kosong itu dengan seutas tali, ingin kujadikan layang-layang. Tapi aku tak punya angin untuk menerbangkan kosong. Aku menanam kosong itu di tanah. Namun aku tak punya air untuk menyirami kosong. Andai saja puting ibu masih ada, aku pasti sudah mencipratkan air susu ibu pada kosong.
Sejak kecil aku sudah belajar caranya selesai.
Seperti kata bu guru, selesai tidak selesai harus dikumpulkan. Maka kulipat-lipat saja kosong itu. Menjadi sangat kecil. Menjadi sangat tipis. Menjadi sangat mungil. Lalu kutaruh di relung bola mataku. Menjadi hiasan kosong. Membuat orang bingung, mengapa mataku kosong.
Lalu kuusap-usap mataku yang kosong. Butiran-butiran kosong membuat mataku pedih. Air mataku lepas dan mengalir. Kosong-kosong itu pun keluar. Tak lagi tinggal di dalam aku. Tak lagi kusimpan di dalam aku.Ternyata aku hanya perlu menangis. Sesuatu yang telah kupelajari sejak lahir.
Sejak kecil, aku sudah belajar caranya selesai.
Kucing Manis, 04-05-2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar