Senin, 26 Maret 2018

Tuhan adalah...


Tuhan adalah sebuah pohon besar
Yang pada cabangnya,
Anak perempuan menggantungkan ayunannya
Yang pada kulit kayunya,
Anak laki-laki menuliskan nama kekasihnya
Yang pada teduh bayangnya,
Si anak perempuan dan si anak laki-laki itu
Bertemu.

17.11.13

Korek dan kabel


Korek api,
Adalah doa restu
Yang tercurah pada batang rokok
Agar ia bisa menyiulkan asap
Menyentuh udara

31.3.15

Kabel,
Adalah kerinduan yang terjebak
Sekian lama di dalam
Tak bisa keluar
Hingga kau tekan tobol saklar
Dan buncahan rindunya
Mencuat cepat
Melesat kuat
Lalu menyala

25.3.15

Sampo dan Odol


Sampo,
Adalah jalan patah hati
Bagi kutu yang menyayangi rambut
Terbilas sudah
Tergelincir dalam seonggok getir rindu.

31.3.15

Odol,
Adalah kata maaf
Yang terpaksa diberikan
Pada gigi gigi
Yang tidak selalu putih

25.3.15

Pohon (2)


Telah lama tanah itu rela
Untuk retak dan tercekik
Segala akar yang kuat itu
Dari pohon yang diasuhnya itu.


21.2.14

Pohon (1)


Hujan turun semalaman

Terguyur sudah pohon itu

Dua duanya dalam bisu

Dua duanya melepas sendu


21.2.14

Pria yang itu (2)


Kamu adalah batu angkuh
Kugerogoti kau sampai lunak
Sebab aku lumut
Yang keras kepala
Kamu adalah sungai ngilu
Tempat ikan-ikan
Saling bicara satu sama lain
Kamu adalah singkat cerita
Sebuah inti
Tengah dan satu
Kamu adalah kertas
Yang dilipat jadi pesawat
Terbang bebas
Dan mendarat pas
Kamu adalah masa lalu
Yang aktif
Menjadi semakin kini
Kamu adalah tebakan gila
Yang kulontarkan pada langit cerah
Matahari berbinar
Dan seribu burung di udara

3-5.9.14

Pria yang itu


Selamat pagi pria sayup-sayup
Ini ada kiriman
Embun, rasa dingin, mimpi,
Dan lain-lain
Selamat siang pria matahari
Sekeranjang gersang milikmu
Kutulis di es, setiap terik
Selamat sore pria senja
Kamu yang oranye masih suka
Menebar deretan cerita masam,
Sambil sedikit-sedikit kutambahi gula
Selamat malam pria bisik-bisik
Tidak ada kiriman untukmu
Sampai ketemu lagi besok
Dikejauhanmu dan aku

14.9.14

Sampai Kenyang


Hai pria congkak
Aku ingin sekali
Memberimu makan
Sekarung kerapuhan yang sensitif
Sampai kamu kenyang

15.9.14

Kemeja


Aku menaruh sebuah telingaku

Pasa satu sisi kantung kemejamu

Supaya terus kuingat

Bagaimana daun-daun itu

Berdegup dan berbisik


11.8.12

Meranggas


Jendela itu rindu
.
Pada daun pintu
.
Yang meranggas
.
Ditelan kemarau


25.2.18

Hujan Pelupa


Saat ia tahu ia tak selamanya awan
Dan langit tak selamanya rumahnya
Ia akan selalu terisak-isak
Menjatuhi atap atap,
Menyuburkan genting genting,
Selalu lupa
Bahwa dirinyalah berkat.

22.11.14










illustrasi: "The Song For Rain" oleh Yawen Zheng


Sabtu, 10 Maret 2018

Kita Memang

Kita adalah sepasang sepi
Yang menggelepar di pinggiran detak
Kita belajar menggenggam
Mengisi sela jari dengan jari

Kita memang sepasang sepi
Yang tertelungkup lalu mendengkur
Memenuhi lekuk dengan lekuk

Kita memang sepasang.

22.5.17

Gerhana


Ketika sepasang bibir berlabuh,
Tenggelamlah mata dalam gerhana

20.4.17

Bila


Bila berteduh itu tidak hujan
Maka basah adalah keharusan

Bila diam itu tidak tenteram
Maka ragu adalah kesempatan

20.4.17

Kamar Akrab


Di dalam kamar yang akrab ini
Aku terpencil jauh sekali.

Ke dalam rindu yang panjang itu
Aku memar nyeri sekali.

28.10.16

Waktu Hujan


Hujan di pagi hari
Tidak curiga kepada
Yang tergesa membuka payung

Hujan di siang hari
Tidak tersinggung kepada
Yang berlari menyelamatkan pakaian

Hujan di sore hari
Tidak mengumpat kepada
Yang buru-buru menutup pintu rumah

Hujan di malam hari
Tidak cemburu kepada
Yang khusuk bercinta dalam rimbun rindu

29.9.16

Jumat, 09 Maret 2018

Kamis, 08 Maret 2018

Caranya

Bagaimana caranya menjinakkan sesal
yang gaungnya bergetar
hingga merundukkan kebebalan.

Bagaimana caranya menjamah jauh
yang jaraknya menjerit
hingga membasahkan pandang

4.10.16

Rabu, 07 Maret 2018

Maklum


Seperti aku menyaksikan
Letupan sepi yang melesat
Dan lalu menggema di jendela itu
Seperti aku memaklumkan
Gempuran tangis yang meronta
Dan lalu mereda di genggaman itu


29.9.16

Anak tangga dan bangku taman

Seperti anak tangga yang merahasiakan langkah kaki di malam hari. Seperti bangku taman yang merekam dinginnya fajar untuk diperam sampai han...